Awal timbulnya konstipasi penting diperhatikan sebab dapat memberi petunjuk tentang penyebabnya. Bila kesulitan BAB terjadi sejak lahir maka perlu dipikirkan kemungkinan penyakit bawaan, misalnya penyakit Hirscprung. Penyakit ini berupa berkurangnya serabut saraf pada selaput lendir usus besar, dengan akibat usus besar kurang bergerak. Akibatnya tinja yang terbentuk tidak bisa melalui usus besar menuju anus dengan lancar. Pada waktu lahir sebenarnya telah tampak kotorannya yang berwarna hitam (mekonium) terlambat keluarnya. Pada keadaan normal, biasanya bayi telah mengeluarkan mekonium-nya dalam 24 jam pertama. Bila bayi menderita penyakit ini, selain konstipasi, akan tampak perut membuncit dan lama-kelamaan akan kurang gizi. Bila konstipasi terjadi setelah anak berusia 2-3 tahun, tentu penyebabnya adalah hal lain seperti diet, kejiwaan, dan lain-lain
Konstipasi adalah kondisi di mana feses memiliki konsistensi keras dan sulit dikeluarkan.1 Masalah ini umum ditemui pada anak-anak. Buang air besar mungkin disertai rasa sakit dan menjadi lebih jarang dari biasa. Pada anak normal, konsistensi feses dan frekuensi BAB dapat berbeda-beda. Morbus Hirschsprung (MH) adalah penyakit yang ditandai konstipasi sejak bulan-bulan pertama kehidupan bayi.Bayi yang disusui ASI mungkin mengalami BAB setiap selesai disusui atau hanya sekali dalam 7-10 hari. Bayi yang disusui formula dan anak yang lebih besar mungkin mengalami BAB dengan konsistensi yang keras, 2-4 hari sekali, dikategorikan sebagai konstipasi. Pada usia 1 bulan pertama, bayi rata-rata defekasi 2-8 kali per hari. Kemudian pada usia 1-3 bulan, defekasi menjadi lebih jarang.
Konstipasi dapat terjadi normal pada anak yang sehat, disebut sebagai konstipasi fungsional. Ini ditemukan sebagai penyebab pada 97% kasus konstipasi. Sedangkan penyebab organik (yang tidak normal) ditemukan pada 1,5 – 3% kasus konstipasi.
1. Penyebab utama konstipasi fungsional pada bayi adalah dehidrasi (kekurangan cairan) dan masalah motilitas (pergerakan) usus. Faktor lain yang juga dapat menyebabkan konstipasi adalah obat-obatan yang mengandung besi, kalsium, dan aluminium.
2. Penyebab utama konstipasi yang abnormal (organik) adalah penyakit Morbus Hirschsprung. Pada bayi 0 – 3 bulan, pencampuran susu formula yang tidak benar dapat mengurangi asupan cairan sehingga menyebabkan konstipasi.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa susu formula dengan campuran lemak nabati seperti minyak kelapa sawit (palm olein) dapat menyebabkan tinja lebih keras dan defekasi menjadi lebih jarang. Penelitian lain menunjukkan bayi yang minum susu formula yang mengandung minyak kelapa sawit, lemaknya lebih lambat diserap dibanding susu formula tanpa minyak kelapa sawit.
Dengan demikian frekuensi BAB yang lebih jarang atau konsistensi feses yang sedikit lebih padat dari biasa tidak selalu harus ditangani sebagai konstipasi. Penanganan konstipasi hanya diperlukan jika pola BAB atau konsistensi feses menyebabkan masalah pada anak. Umumnya dengan nutrisi yang baik, perbaikan kebiasaan BAB, dan penggunaan obat yang sesuai jika diperlukan, masalah ini dapat ditangani.
Gejala dan Tanda
Konstipasi dapat menyebabkan gejala berikut:
• Sakit perut, BAB mungkin disertai rasa sakit dan perut membuncit
• Turun atau hilangnya napsu makan
• Rewel
• Mual atau muntah
• Turunnya berat badan
• Noda feses di celana dalam anak yang menandakan banyaknya feses yang tertahan di rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jika anak mengalami konstipasi yang cukup berat, ia dapat kehilangan kemampuan merasakan kebutuhan ke toilet untuk BAB sehingga menyebabkan anak BAB di celananya. Hal ini disebut encopresis atau fecal incontinence.
• Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
• Konstipasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih
Konstipasi dapat disebabkan oleh:
• Kecenderungan alami gerakan usus yang lebih lambat, misalnya pada anak dengan riwayat feses yang lebih padat dari normal pada minggu-minggu awal setelah lahir.
• Nutrisi yang buruk, misalnya yang tinggi lemak hewani dan gula (pencuci mulut, makanan-makanan manis), serta rendah serat (sayuran, buah-buahan, whole grains).
• Beberapa obat dapat menyebabkan konstipasi, misalnya antasid, fenobarbital (obat kejang), obat pereda nyeri, dan obat batuk yang mengandung kodein.
• Kebiasaan BAB yang tidak baik, misalnya tidak tersedianya cukup waktu untuk BAB dengan tuntas.
• Perubahan diet pada anak sering pula menimbulkan konstipasi yang bersifat sementara.
• Kekurangan cairan dan infeksi virus juga dapat menyebabkan konstipasi.
• Kurangnya aktivitas fisik.
• Adanya kondisi anus yang menyebabkan nyeri, misalnya robekan pada lapisan mukosa anus (anal fissure). Hal ini seperti lingkaran setan karena mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan terjadinya fissure, dan nyeri yang disebabkan fissure menyebabkan anak menahan kebutuhan BAB yang memperparah konstipasi.
• Toilet training yang dipaksakan. Toilet training pada anak yang belum siap secara emosional dapat mengakibatkan anak memberontak dengan menahan keinginan BAB. Jika anak belum siap untuk menjalani toilet training, tunggu beberapa bulan sebelum memulainya kembali.
• Kadang konstipasi dapat terjadi karena penganiayaan seksual (sexual abuse).
• Penyebab paling sering konstipasi kronik adalah yang disebut konstipasi fungsional. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin keturunan.
• Gangguan motilitas usus dimana gerakan peristaltik melemah, juga sering menyebabkan konstipasi.
Konstipasi dapat merupakan akibat dari beberapa penyakit seperti tidak adanya saraf normal di sebagian usus (Hirschprung disease), kelainan saraf tulang belakang, kurangnya hormon tiroid, keterbelakangan mental, atau beberapa kelainan metabolik. Namun sebab-sebab ini relatif jarang dan umumnya disertai gejala lain.
Penanganan
Pada bayi di bawah usia satu tahun, kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti dengan lebih cermat, terutama apabila konstipasi disertai gejala lain seperti:
• Keluarnya feses pertama lebih dari 48 jam setelah lahir, kaliber feses yang kecil, gagal tumbuh, demam, diare yang diserai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan di perut
• Perut yang kembung
• Lemahnya otot atau refleks kaki, adanya lesung atau rambut di punggung bagian bawah
• Selalu tampak lelah, tidak tahan cuaca dingin, denyut nadi yang lambat
• Banyak BAK, banyak minum
• Diare, pneumonia berulang
• Anus yang tidak tampak normal baik bentuk maupun posisinya
Umumnya masalah ini dapat ditangani dengan cara sebagai berikut:
A. Kebiasaan BAB yang baik
• Anak yang mengalami konstipasi harus dilatih untuk membangun kebiasaan BAB yang baik.2 Salah satu caranya adalah dengan membiasakan duduk di toilet secara teratur sekitar lima menit setelah sarapan, bahkan jika anak tidak merasa ingin BAB. Anak harus duduk selama lima menit, bahkan jika anak telah menyelesaikan BAB sebelum lima menit tersebut habis.
• Anak juga harus belajar untuk tidak menahan keinginan BAB. Kadang anak mengalami kekhawatiran jika harus menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencurigai adanya masalah tersebut, orang tua hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah.
B. Makanan tinggi serat
• Serat membuat BAB lebih lunak karena menahan lebih banyak air dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Memperbanyak jumlah serat dalam makanan anak dapat mencegah konstipasi. Beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan serat anak adalah:1,2,3
• Berikan minimal 2 sajian buah setiap hari. Buah yang dimakan beserta kulitnya, misalnya plum, aprikot, dan peach, memiliki banyak kandungan serat.
• Berikan minimal 3 sajian sayuran setiap hari.
• Berikan sereal yang tinggi serat sepert bran, wheat, whole grain, dan oatmeal. Hindari sereal seperti corn flakes.
• Berikan roti gandum (wheat) sebagai ganti roti putih.
Banyak minum dapat mencegah konstipasi. Biasakan anak untuk minum setiap kali makan, sekali di antara waktu makan, dan sebelum tidur. Namun perlu diperhatikan bahwa terlalu banyak susu sapi atau produk susu lainnya (keju, yogurt) justru dapat mengakibatkan konstipasi pada sebagian anak. . Pada ibu menyusui yang bayinya mengalami sembelit, dianjurkan mengonsumsi lebih banyak cairan (air putih, jus).
C. Laksatif
• Laksatif mungkin dibutuhkan untuk menangani konstipasi. Jika laksatif tidak bekerja atau harus diberikan berulang kali, anak harus dievaluasi oleh dokter. Beberapa laksatif yang dapat diberikan adalah:1,2
• Jus prune: Jus prune adalah laksatif ringan yang efektif pada sebagian anak. Jus ini mungkin akan terasa lebih enak jika dicampur dengan jus buah lain.
• Psyllium husk (salah satu merknya adalah metamucil). Laksatif ini bekerja dengan melunakkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan.
• Senokot (senna). Laksatif ini bekerja dengan menstimulasi usus untuk mengosongkan isinya. Laksatif ini berbentuk butiran yang dapat dicampur dengan makanan seperti es krim.
• Durolax (bisacodyl). Bentuk laksatif ini adalah tablet dan bekerja dengan cara yang sama seperti senokot.
• Coloxyl (docusate). Laksatif ini berupa tablet atau tetes, bekerja dengan melunakkan feses.
• Agarol (parafin cair dan fenoftalein). Laksatif ini berbentuk cairan, bekerja dengan melunakkan dan melicinkan feses, serta menstimulasi usus untuk mengosongkan isinya.
• Parachoc (parafin cair dengan rasa coklat-vanila). Laksatif ini berbentuk cairan dan bekerja dengan cara yang sama seperti agarol.
• Laksatif lain yang digunakan misalnya lactulose, sorbitol, barley malt extract, magnesium hydroxyde, atau magnesium citrate. Namun bayi di bawah usia satu tahun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keracunan magnesium.
Perlu diingat bahwa penggunaan laksatif jangka panjang dapat berbahaya bagi anak. Karena itu, laksatif hanya boleh digunakan dengan pengawasan dokter dan sesuai dosis yang diberikan.3
D. Supositoria
Jika setelah 2-3 hari penggunaan laksatif konstipasi anak tidak membaik, supositoria seperti glycerin atau durolax suppositories dapat digunakan.1,2 Supositoria harus dilapisi dengan pelicin yang larut dalam air seperti KY jelly sebelum dimasukkan ke rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jangan gunakan vaselin karena vaselin tidak larut dalam air. BAB biasanya akan terjadi 30 menit setelah pemberian supositoria.
E. Enema
Enema tidak boleh diberikan pada anak kecuali jika dokter memerintahkannya.
F. Irigasi usus
Hal ini hanya diperlukan pada sebagian kecil anak yang mengalami konstipasi yang sangat berat.2 Hal ini dilakukan di RS dengan memberikan cairan bernama Golytely baik dengan cara diminum atau melalui selang lambung.
Penelitian menunjukkan penggunaan zat-zat seperti: Laksans (pencahar) seperti sirup jangung (corn syrup), laktulosa, KY jelly, juice pear / apel (sorbitol), PEG 3550 non elektrolit, sebagai pencahar untuk melancarkan BAB, cukup aman dan efektif.
Usia Defekasi normal
Per minggu Per hari
0-3 bulan ASI 5 – 40 2,9
Susu formula 5 – 28 2,0
6 – 12 bulan 5 – 28 1,8
Sumber
• Clinical Practice Guideline. Constipation Guideline. Available from http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5180
• Kids Health Info for Parents. Constipation. Available from http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3718
• Children and Constipation: Ways to Cope and When to Worry. Available from http://www.mayoclinic.com/health/constipation/HQ00416
• Baker SS, et al. Constipation in Infants and Children: Evaluation and Treatment. Available from J Pediatr Gastroenterol Nutr.Volume 29(5).November 1999.612-626
• Biggs WS, Dery WH. Evaluation and Treatment of Constipation in Infants and Children. Available from http://www.aafp.org/afp/20060201/469.html
• Itqiyah , Nurul.Tata Laksana Konstipasi. Available from http://www.keluargasehat.wordpress.com /2008/03/29/tata-laksana-konstipasi.html